Harga Tes PCR Resmi Turun 45%, Jokowi Masih Tuai Kritik

  • Bagikan
harga tes PCR terbaru

Harga Tes PCR terbaru di Indonesia per 17 Agustus 2021 sudah resmi turun dengan maksimal Rp 495 ribu untuk Jawa Bali dan Rp 525 ribu untuk luar Jawa Bali. Turunnya harga ini setelah adanya instruksi Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada Menteri Kesehatan (Menkes) untuk menurunkan harga tes PCR di kisaran 450-550 ribu.

Kementerian Kesehatan pun langsung merespons dengan mengeluarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Nomor JP.02.03/I/2841/2021. Di dalamnya tertulis bahwa harga tes PCR sekarang maksimal adalah Rp 495 ribu untuk Jawa Bali dan Rp 525 ribu untuk luar Jawa Bali.

Harga tersebut lebih murah sekitar 45 persen dari harga yang ada dalam Surat Edaran Menteri Kesehatan sebelumnya, yakni Rp 900.000.

Meskipun demikian, Presiden dan Kemenkes masih menuai kritik karena menurut sejumlah pihak harga tersebut masih kemahalan.

Sebagai informasi, pemerintah juga sudah mendapat banyak kritikan sebelum adanya instruksi Presiden Jokowi tersebut. Banyak pihak juga sudah mengungkapkan kejanggalan-kejanggalan terkait harga tes PCR di Indonesia.

Berikut reportase lebih rinci mengenai polemik harga tes PCR sekarang yang di Indonesia. Baca sampai akhir ya!

Pentingnya Tes PCR dalam Memutus Rantai Covid-19

Tes swab reverse-transcription-polymerase chain reaction (RT-PCR) atau  PCR sampai saat ini masih menjadi “gold standard” untuk mengonfirmasi infeksi Covid-19.

Tes swab PCR bisa mendeteksi virus penyebab Covid-19 dengan sensitivitas mencapai 86 persen dan nilai spesifisitas 96 persen. Begitulah keakuratan tes PCR sebagaimana penjalasan di laman Pharmacy Universitas Islam Indonesia (UII).

Hasil ini jauh lebih akurat daripada tes antigen dan antibodi. Hal ini karena tes PCR menggunakan sampel asam nukleat untuk memastikan keberadaan virus corona. Sedangkan antigen dan antibodi mengukur protein atau memeriksa antibodi yang mengukur Imunoglobulin atau IgG dan IgM.

Keakuratannya pulalah yang menjadikan tes PCR sangat krusial untuk memutus rantai Covid-19. Di saat yang sama, mahalnya harga tes PCR sekarang di Indonesia secara tidak langsung juga berdampak pada lambatnya upaya tersebut.

Inilah salah satu poin penting yang menjadi landasan kritikan sejumlah pihak kepada pemerintah. Salah satunya dari peneliti ICW Wana Alamsyah. Berikut kutipan keterangan tertulis Wana pada Ahad, 15 Agustus 2021:

“Mahalnya tarif pemeriksaan PCR di Indonesia tentu berdampak pada upaya Pemerintah dalam memutus rantai penularan Covid-19. Banyaknya kasus pasien Covid-19 tanpa gejala dan mahalnya tarif pemeriksaan, menghambat sejumlah warga untuk melakukan tes PCR secara mandiri.”

Keganjilan Harga Tes PCR di Indonesia

Berdasarkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/I/3713/2020, tarif tertinggi untuk harga tes PCR sebelumnya adalah Rp 900 ribu. Harga ini sangat kemahalan, bahkan sekitar 10 kali lipat dari tarif di India. Sejumlah pemberitaan mengabarkan bahwa Pemerintah India memangkas tarif PCR dari 800 Rupee menjadi 500 Rupee atau hanya sekitar Rp 96.000.

Karena itulah sejumlah pihak mendesak agar Kementerian Kesehatan segera merivisi Surat Ederan tersebut. Salah satu yang paling getol melayangkan desakan tersebut datang dari Indonesia Corruption Watch (ICW). Berdasarkan keterangan Wana Alamsyah , ICW setidaknya menemukan dua permasalahan.



Dua persoalan serius:

Pertama, Tidak ada pemberitahuan kepada publik bahwa modal untuk produk tes PCR bisa murah. Karena ternyata kepada pelaku usaha untuk produk test kit dan reagent laboratorium tidak terkena beban biaya impor.

Hal ini berdasarkan Pasal 2 ayat (1) huruf c Peraturan Menteri Keuangan Nomor 34/PMK.04/2020. Di dalamnya ada penjelasan bahwa ada pembebasan pungutan Pajak Penghasilan (PPh) atas impor barang untuk keperluan penanganan pandemi Covid-19. Artinya juga termasuk produk untuk keperluan tes PCR.

Wana mengatakan, tidak adanya biaya impor barang tentu akan mempengaruhi komponen dalam menyusun tarif PCR, dan seharusnya publik juga tahu.

“Yang menjadi masalah adalah publik tidak pernah diberikan informasi mengenai apa saja komponen pembentuk harga dalam kegiatan tarif pemeriksaan PCR. Kami mendesak Kementerian Kesehatan segera membuka informasi mengenai komponen penetapan tarif PCR kepada publik,” kata dia.

Kedua, hasil penelusuran ICW menemukan bahwa rentang harga reagen PCR yang selama ini pelaku usaha keluarkan senilai Rp180.000 hingga Rp375.000. Setidaknya ada 6 (enam) merek reagen PCR yang beredar di Indonesia sejak tahun 2020, seperti Intron, SD Biosensor, Toyobo, Kogene, Sansure, dan Liverifer.

Artinya, perbandingan antara penetapan harga dalam Surat Edaran milik Kementerian Kesehatan yang lama dengan harga pembelian oleh Pelaku Usaha memiliki gap harga reagen PCR mencapai 5 kali lipat.

Wana menyayangkan Kementerian Kesehatan yang tidak pernah menyampaikan mengenai besaran komponen persentase perolehan keuntungan dari pelaku usaha yang bergerak pada industri pemeriksaan PCR ini.

Penetapan kebijakan tanpa adanya keterbukaan berakibat pada kemahalan harga penetapan pemeriksaan PCR dan pada akhirnya hanya akan menguntungkan sejumlah pihak saja. Untuk itu, ICW juga meminta Kementerian Kesehatan memberikan subsidi terhadap pemeriksaan PCR yang dilakukan secara mandiri.

Respons Pemerintah atas Polemik Harga Tes PCR

Sebelum itu, Kemenkes memberikan penjelasan bahwa mahalnya tes PCR karena bahan bakunya masih bergantung pada impor dan harga reagen yang mahal.

Meskipun demikian, terutama setelah banyaknya desakan, Kemenkes juga menegaskan bahwa mereka siap mendengar aspirasi masyarakat. “Kami terbuka dengan masukan, nanti akan dibahas tim,” ungkap Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi.

Baca juga: Data Kematian Covid-19 Indonesia Dihapus? Ini Jawaban Pemerintah

Gayung bersambut, kata berjawab. Presiden Jokowi pun memerintahkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menurunkan harga tes PCR sekarang menjadi Rp450 ribu-550 ribu.

“Saya sudah berbicara dengan Menteri Kesehatan mengenai hal ini, saya minta agar biaya tes PCR berada di kisaran antara Rp 450.000 sampai Rp 550.000,” kata Jokowi dalam keterangannya melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Ahad, 15 Agustus 2021.

Dengan penurunan harga ini, Jokowi berharap bisa memperbanyak testing. “Salah satu cara untuk memperbanyak testing adalah dengan menurunkan harga tes PCR,” ujarnya.

Kementerian Kesehatan setelahnya juga menyatakan akan segera menindaklanjuti perintah presiden tersebut. “Akan kami tindaklanjuti sesuai arahan presiden,” ujar Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, Ahad, 15 Agustus 2021.

Harga Terbaru

Hanya berselang sehari, Kemenkes pun langsung memengeluarkan Surat Edaran yang mengatur bahwa harga tes PCR terbaru maksimalnya adalah Rp 495 ribu untuk Jawa Bali dan Rp 525 ribu untuk luar Jawa Bali.

“Kami turunkan kurang lebih 45% dari (harga) tahap awal,” kata Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan, Abdul Kadir dalam konferensi pers virtual, Senin (16/8).

Kadir menjelaskan bahwa angka ini merupakan hasil dari evaluasi Kemenkes bersama-sama dengan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Dia menegaskan bahwa hal ini berdasarkan perhitungan struktur biaya pengambilan, jasa pelayanan, biaya administrasi, dan komponen lainnya sebelum memangkas batas atas PCR.

Salah satu contohnya, penurunan mengacu harga reagen yang saat ini juga telah turun. Namun dia memastikan penetapan tarif baru ini sudah mempertimbangkan margin keuntungan swasta selaku penjual.

“Kami hitung hingga mendapatkan unit cost, kemudian ditambahkan margin profit untuk swasta sekitar 15%-20%,” katanya.

Adapun perbedaan harga PCR antara Jawa Bali dan luar pulau tersebut karena faktor biaya logistik yang berbeda-beda. Dia mengatakan ongkos pengiriman di Kalimantan, Sumatera, dan Papua relatif lebih besar.

“Variabel biaya transportasi ini kami tempatkan sehingga didapat dan selisihnya menjadi Rp 525 ribu,” kata Kadir.

Dia juga meminta Dinas Kesehatan Provinsi, Kabupaten, dan Kotamadya memantau implementasi penetapan harga baru PCR ini. Sedangkan Kemenkes menyerahkan sanksi kepada daerah masing-masing.

Durasi Hasil Tes

Selain mengevaluasi harga acuan tertinggi, sesuai instruksi presiden juga, Kemenkes juga mengatur  durasi hasil tes PCR yakni 1×24 jam. Ia berharap semua fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, laboratorium dan fasilitas pemeriksaan lainnya bisa memenuhi ketentuan ini.

Terkait ini, Jubir Vaksinasi Covid-19 Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi menyebut Kemenkes akan membenahi jejaring fasilitas laboratorium di seluruh rumah sakit. Hal ini bertujuan mewujudkan standar pelayanan PCR yang terjangkau secara biaya dan tepat waktu. Hingga saat ini, jejaring laboratorium yang sudah terdaftar dalam jejaring nasional berkisar 800 unit yang tersebar di berbagai daerah.

Nadia juga menyebut ada kemungkinan penambahan sarana dan prasarana. “Untuk daerah yang dengan akses mudah dan tidak ada masalah dengan transportasi serta kondisi geografis, tentunya perlu terobosan untuk percepatan. Pemberitahuan hasil juga akan menggunakan informasi teknologi untuk percepatan,” tuturnya.

Kritikan atas Harga Tes PCR Terbaru

Instruksi Presiden Jokowi untuk menurunkan harga tes PCR menjadi Rp450 ribu-550 ribu di atas sebelumnya mendapat apresiasi dari Sekretaris Fraksi PPP DPR RI, Achmad Baidowi. Namun, Baidowi juga memberikan kritikan karena harga tersebut masih terbilang mahal.

Menurut Baidowi, meskipun Jokowi telah meminta harga turun sekitar 45 persen, tapi masih tinggi dari negara-negara lain. “Instruksi tersebut patut kami apresiasi. Namun meskipun harganya turun 50 persen, ini masih tinggi dari negara-negara lain,” ujar anggota DPR dari Dapil Jatim XI ini lewat keterangan tertulis, Ahad, 15 Agustus 2021.

Ia mencontohkan, di Uzbekistan misalnya, harga PCR sekitar Rp350 ribu. “Itu pun yang (hasilnya keluar) 6 jam. Kalau yang 24 jam lebih murah,” tuturnya.

Kritikan juga datang dari Epidemiolog Universitas Indonesia, Pandu Riono. Pandu bahkan mengatakan, Presiden Jokowi seharusnya memerintahkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menurunkan harga tes PCR terbaru serendah-rendahnya sampai Rp150 ribu.

Menurut Pandu, penurunan biaya tes PCR menjadi Rp450 ribu-550 ribu, masih terbilang mahal.

Tes PCR berdasarkan e-Catalogue bisa ditekan 150 ribu rupiah. Pak @jokowi memerintahkan ke pak @BudiGSadikin @KemenkesRI harus menekan kemahalan dengan serendah-rendah dan secepat-cepatnya. Kalau dipatok 500 ribu itu masih sangat mahal,” cuit Pandu lewat akun Twitter @drpriono1, seperti dikutip Tempo.

Selain PCR, Pandu menyebut tes cepat antigen pun semestinya bisa ditekan hingga Rp70 ribu rupiah. “Satu dus tes antigen berisi 25 tes. Satu dus tes PCR berisi 100 tes. Jadi kenapa bisa terjadi harga kemahalan, walaupun sudah diprotes, karena banyak yang diuntungkan dan tidak pengawasan yang ketat dari regulator Kemenkes RI,” tuturnya.

Perbandingan Harga, Kenapa di India Bisa Lebih Murah?

Sebagaimana penjelasan sebelumnya, harga tes PCR di Indonesia masih tergolong mahal, salah satunya dari India yang sebelumnya bahkan sampai 10 kali lipat.

Ihwal tersebut, mantan Direktur WHO Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama, mengatakan perlunya analisa mendalam soal gap ini. “Tentu perlu analisa mendalam tentang kenapa tarif PCR di India dapat lebih murah,” kata Tjandra dalam keterangannya, Sabtu, 14 Agustus 2021.

Tjandra menuturkan, tarif tes PCR di India yang murah sebetulnya bukan hal baru. Pada September 2020, harga tes PCR di India sekitar 2.400 rupee atau Rp 480 ribu. Sementara di Indonesia tarifnya sekitar Rp 1 juta. Tjandra melakukan tes tersebut ketika hendak pulang ke Jakarta dari New Delhi.

Pada November 2020, pemerintah kota New Delhi menetapkan harga baru yang jauh lebih rendah, yaitu hanya 1.200 rupee atau Rp 240 ribu. “Turun separuhnya dari yang saya bayar di bulan September 2020,” katanya.

Tarif tes PCR di India kemudian turun lagi menjadi 800 rupee atau Rp 160 ribu untuk pemeriksaan di laboratorium dan RS swasta.

Pada awal Agustus 2021, pemerintah kota New Delhi kembali menurunkan patokan tarif tes PCR menjadi 500 rupee atau Rp 100 ribu. Jika pemeriksaannya di rumah klien, maka tarifnya Rp 140 ribu. Sedangkan tarif pemeriksaan tes usap antigen adalah 300 rupee atau Rp 60 ribu.

Menurut Tjandra, pemerintah New Delhi juga meminta agar laboratorium swasta di kota itu dapat menyelesaikan pemeriksaan dan memberi tahu hasilnya ke klien dalam satu kali 24 jam. Hal itu sudah termasuk dengan laporan ke portal pemerintah. “Sehingga datanya segera dikompilasi di tingkat nasional, mencegah keterlambatan pelaporan, inisiatif yang bagus,” ujarnya.

Beberapa kemungkinan

Meski demikian, Tjandra menilai perlu analisa mendalam di balik murahnya tarif tes PCR di India. Ia memperoleh informasi dari temannya bahwa kemungkinan ada subsidi dari pemerintah setempat sebagai bagian dari penanggulangan pandemi. Jika harga tes lebih murah, Tjandra menilai jumlah tes di Indonesia juga dapat lebih banyak sehingga mudah dalam mengendalikan penularan Covid-19 di masyarakat.

Kemungkinan lainnya adalah adanya fasilitas keringanan pajak. Banyak juga pembicaraan tentang lebih murahnya bahan baku untuk industri, juga ketersediaan tenaga kerja yang besar jumlahnya. “Semua kemungkinan ini perlu analisa lebih lanjut. Tetapi yang jelas, selain tarif PCR maka harga obat-obatan di India juga amat murah daripada yang di Indonesia,” kata Tjandra.

Tanggapan Harga Terbaru

Terkait harga tes PCR terbaru, Guru Besar Fakultas Kedokteran UI ini memberikan apresiasi. Dia menilai bahwa dengan menurunkan harga tes akan memudahkan masyarakat untuk mengakses. Terutama mereka yang memerlukan.

“Yang jelas dari kacamata kesehatan masyarakat kalau harga PCR lebih murah maka akan lebih mudah orang yang memerlukannya untuk mengaksesnya. Hanya saja PCR untuk kegiatan penelusuran kontak di lapangan maka tentunya akan gratis,” tutur Tjandra.

Namun terkait apakah harga itu sudah sesuai atau belum, Ia menolak berkomentar. Sebab ia tak mengetahui rincian struktur harga, serta perlunya pengecekan dari segi komponen harga sampai ke beban pajak.

“Harus dikaji komponen harganya. Jangan sampai laboratorium malah tidak bisa memeriksa kalau komponen harga tidak sesuai. Kalau ada beban pajak maka juga harus disesuaikan,” kata Tjandra. ***

Jadi, bagaimana menurut Sahabat Artikula, apakah harga tes PCR terbaru di Indonesia sudah murah? Berikan pendapatmu di kolom komentar ya…

  • Bagikan